Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Ketapang Masih Diselimuti Kabut Asap, HMI Peduli Hadir Bagikan Masker kepada Masyarakat

25
×

Ketapang Masih Diselimuti Kabut Asap, HMI Peduli Hadir Bagikan Masker kepada Masyarakat

Sebarkan artikel ini

TopNews, Ketapang – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ketapang kembali melaksanakan gerakan HMI Peduli dengan membagikan masker kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih dirasakan di Kabupaten Ketapang, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan tersebut dilakukan di tengah kondisi kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Ketapang. Selain mengganggu aktivitas masyarakat, kabut asap juga berdampak terhadap jarak pandang dan kualitas udara.

Kondisi Karhutla sebelumnya mendorong Pemerintah Kabupaten Ketapang meningkatkan status penanganan dari siaga menjadi Tanggap Darurat Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pada 2 September 2026.

Saat itu, kebakaran dilaporkan terjadi di 15 dari 20 kecamatan di Kabupaten Ketapang. Dampaknya tidak hanya terhadap lingkungan, tetapi juga kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta ketersediaan air bersih.

Dampak kabut asap masih terlihat hingga Kamis (24/9/2026). Jarak pandang di Bandara Rahadi Oesman Ketapang dilaporkan sempat turun hingga sekitar 50 meter dan mengganggu penerbangan rute Ketapang-Pontianak. Kondisi tersebut berkaitan dengan kabut asap Karhutla yang masih menyelimuti sejumlah wilayah.

Upaya penanganan melalui pemadaman udara juga sempat menghadapi kendala akibat jarak pandang. Helikopter Chinook CH-47 milik Jepang baru dapat melaksanakan operasi water bombing di Kabupaten Ketapang setelah sebelumnya tertahan selama dua hari karena kondisi kabut asap.

Ketua Umum HMI Cabang Ketapang, M. Iqbal Khadafi, mengatakan gerakan HMI Peduli merupakan bentuk tanggung jawab sosial HMI untuk hadir di tengah persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

“HMI Peduli kembali kami laksanakan karena kondisi kabut asap di Ketapang masih menjadi persoalan yang nyata. Masyarakat masih harus menjalankan aktivitas di tengah kondisi udara yang terdampak asap,” kata Iqbal.

Menurutnya, kehadiran HMI di tengah masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab sosial organisasi mahasiswa untuk memberikan manfaat dan kontribusi nyata bagi daerah.

Iqbal menegaskan, pembagian masker bukan merupakan solusi utama dalam menyelesaikan persoalan Karhutla. Namun, langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian yang dapat dilakukan secara langsung sembari mendorong kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan.

“Kami menyadari bahwa pembagian masker bukan solusi utama untuk menyelesaikan Karhutla. Namun, ini adalah bentuk kepedulian yang dapat kami lakukan secara langsung. Pada saat yang sama, kami ingin mendorong kesadaran bersama bahwa Karhutla bukan hanya persoalan pemadaman api, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan, kesehatan, dan keselamatan masyarakat,” tegasnya.

Ia menilai, penanganan Karhutla membutuhkan keterlibatan dan koordinasi berbagai pihak. Pemerintah, aparat penegak hukum, dunia usaha, organisasi kepemudaan, mahasiswa, relawan, hingga masyarakat dinilai memiliki peran masing-masing dalam mencegah meluasnya dampak Karhutla.

“Penanganan Karhutla membutuhkan kerja bersama. Karena itu, kami berharap seluruh elemen dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing, baik dalam pencegahan, penanganan dampak, maupun upaya pemulihan setelah kondisi darurat berakhir,” timpalnya dia.