Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaDaerah

Ketapang dan Sintang Inflasi Tertinggi di Kalbar, Harga Barang Naik Signifikan

2142
×

Ketapang dan Sintang Inflasi Tertinggi di Kalbar, Harga Barang Naik Signifikan

Sebarkan artikel ini

TOPNEWS, Pontianak – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat mencatat Kabupaten Sintang dan Kabupaten Ketapang menjadi dua wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi di provinsi ini pada Juni 2026. Angka kenaikan harga di kedua daerah tersebut melampaui rata-rata provinsi yang tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan (year on year).

Berdasarkan rilis resmi BPS, inflasi di Sintang mencapai 3,71 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,96. Posisi kedua ditempati oleh Ketapang yang tidak kalah tinggi, yakni 3,70 persen.

Angka ini menjadi yang paling tinggi dibandingkan tiga wilayah pemantauan lainnya, yaitu Kota Pontianak, Kota Singkawang, dan Kabupaten Kubu Raya.

Kepala BPS Kalimantan Barat, Muh Saichudin, menjelaskan kenaikan harga di kedua daerah ini didorong oleh pergerakan harga di sejumlah kelompok pengeluaran utama. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil mencapai 1,55 persen.

Komoditas pangan yang mengalami kenaikan signifikan antara lain beras, ikan baung, ikan nila, ikan tongkol, cabai rawit, bawang merah, serta minyak goreng.

Selain itu, kelompok transportasi juga memberikan tekanan harga dengan andil 0,59 persen, menyusul kenaikan tarif angkutan udara, harga bensin, oli, dan biaya perawatan kendaraan.

“Tekanan harga juga terasa pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang tercatat naik sebesar 5,81 persen. Namun demikian, masih ada sejumlah barang yang justru mengalami penurunan harga atau deflasi, seperti ketimun, terong, udang basah, daging ayam ras, serta kebutuhan rumah tangga seperti deterjen dan popok bayi,” jelas Saichudin.

Secara keseluruhan, seluruh wilayah di Kalbar mengalami inflasi pada Juni 2026. Di sisi lain, angka terendah tercatat di Kota Singkawang sebesar 2,93 persen. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, laju kenaikan harga tahun ini juga terlihat lebih cepat, mengingat pada Juni 2025 inflasi Kalbar hanya berada di angka 1,20 persen.

BPS menyatakan akan terus memantau perkembangan harga secara berkala guna menyajikan data akurat sebagai bahan pertimbangan dalam melihat kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat di daerah.